Sunday, December 5, 2010

AWAS WAS-WAS


Seseorang di majelisku beberapa hari yang lalu bertanya tentang was-was dan cara untuk menyembuhkannya. Yang dia maksud dengan was-was adalah adanya bisikan-bisikan disaat dia melaksanakan sebuah ibadah. Bisikan itu mengatakan bahwa apa yang dilakukan tidaklah sempurna atau malah tidak sah atau membuatnya ragu apakah dia sudah melakukannnya atau belum? Misalnya disaat dia telah hampir selesai berwudhu dia ragu-ragu apakah wudhunya itu sudah diawali dengan niat atau belum, dan untuk meyakinkan dirinya, seringkali dia mengulang kembali wudhunya sehingga untuk sekedar berwudhu dia membutuhkan waktu berpuluh menit lamanya, demikian katanya.
Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan menukil jawaban dari beberapa ulama. Saya juga ingat bahwa beberapa teman di pondok pesantren dulu banyak yang terganggu dengan penyakit ini dan tentu saja  mengganggu orang lain pula. Lebih daripada itu penyakit satu ini obatnya tidak akan ditemui di apotek padahal membiarkannya berlarut menjadikan was-was semakin menguasai hati seseorang. Jadi kiranya perlu untuk saya tuliskan metode pengobatannya disini hingga jika ada diantara saudara-saudaraku yang membacanya merasa terkena penyakit ini dia tahu bagaimana menghadapinya, dan bagi yang lain diharapkan bisa belajar untuk mencegahnya. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati?


Baiklah, Untuk mulai membahas hal ini kita akan memulai dengan pertanyaan:
Apakah sebenarnya was-was itu?
Was-was adalah bisikan syeitan, dia berharap dengan bisikan tersebut orang jadi malas melakukan ibadah atau malah justru meninggalkannya.
Ibnu Abbas RA berkata: “ Was-was adalah penyakit orang mukmin.”
Yang dari ucapan beliau kita bisa menyimpulkan 2 hal:
1-     Hanya orang mukmin yang bisa terkena penyakit ini, maka jika engkau mulai diganggu dengan bisikan-bisikan tersebut jangan larut dalam kesedihan apalagi putus asa. Justru bolehlah sedikit berbangga sebab artinya engkau adalah seorang mukmin. Karena tentunya orang yang tidak ada iman di hatinya tidak akan peduli terhadap keabsahan ibadah apalagi kesempurnaannya.

2-     Was-was itu penyakit dan selayak penyakit apapun bentuknya ia harus diobati, betul bahwa ia adalah tanda keimanan tapi membiarkannya merusak ibadahmu menjadikan keimananmu tidak meningkat-meningkat akhirnya.

Bagaimana mengobatinya?
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nas
"Katakanlah aku berlindung kepada Tuhannya manusia (1) Pencipta manusia (2) Pemelihara manusia (3) Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi (4) Dia berbisik dalam dada manusia (5) Dari golongan jin dan manusia (6)"
Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa was-was itu sumbernya dari syeitan dan Iman Ghozali dalam minhajnya mengatakan beberapa teori untuk menghadapi kejahatan syeitan:
1-     Lawan, jangan dengarkan apalagi ikuti.

Jika syeitan mengatakan bahwa kita belum takbir katakan padanya saya sudah melakukannya. Jika dia mengatakan engkau belum berniat katakan padanya niat itu tempatnya di hati dan tak ada yang tahu isi hati kita kecuali Allah, jika dia mengatakan pakaian kita kena najis katakan padanya aku tidak melihat ataupun menciumnya dan kita lebih percaya kepada mata dan hidung kita daripada kepadanya. Sebab syeitan meski terdengar semanis apapun bisikannya tak ada tujuan baginya kecuali menyesatkan.

           Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya:
“Tatkala seseorang diantara kalian tengah duduk dalam sholat, Syeitan seringkali meniup bagian bawah tubuhnya (seolah ada yang angin yang keluar darinya), apabila terjadi yang demikian maka janganlah keluar dari sholatnya kecuali jika telah benar-benar mencium baunya atau mendengar suaranya“
Cobalah baca cerita yang saya nukil dari kitab i’anatut tholibin susunan Abu bakar Syato di bab thoharoh di bawah ini:

“Suatu ketika seseorang datang kepada seorang alim ulama pakar tata bahasa arab yaitu Imam Ibnu Malik, dan dia berkata padanya:

“Wahai Imam, aku dengar bahwa seseorang tatkala pengetahuannya terhadap satu bidang ilmu telah seperti lautan berarti dia telah menguasai seluruh bidang ilmu yang lainnya, apakah itu benar?

Ibnu malik menjawab: “Ya, memang begitulah adanya, sebab ilmu itu saling berkait antara satu dengan lainnya.”

Penanya:  “Engkau adalah seseorang yang pengetahuan agama dari segi tata bahasa arabnya telah kau kuasai dengan benar aku akan bertanya padamu tentang ilmu fiqih, selama ini di saat berwudhu  aku seringkali merasa ragu-ragu apakah aku telah niat, atau membasuh muka sehingga aku mengulang wudhuku kembali, dan ketika aku sholat aku seringkali  ragu apakah aku sudah takbirotul ihram tadi atau apakah aku sudah membaca surat Alfatihah? Sehingga aku mengulang kembali sholatku bahkan sampai berkali-kali. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”

Imam ibnu malik : “Jadi engkau membasuh muka, membasuh tangan, mengusap kepala kemudian kamu merasa bahwa kamu belum membasuh muka? Atau kamu sholat, takbir, membaca Alfatihah, ruku’ dan seterusnya kemudian di waktu sujud kamu merasa sepertinya kamu belum membaca surat Alfatihah?“

Penanya: “ Kira2 begitu”

Imam Ibnu Malik: “ Kalau begitu kamu boleh meninggalkan wudhu dan sholat, ia tidak wajib lagi atasmu”

Penanya: “Kenapa bisa begitu, imam?”

Imam Ibnu Malik: “Ya, sebab orang yang sudah takbir tapi merasa belum takbir, sudah berwudhu tapi merasa belum membasuh muka itu adalah orang yang tidak waras dan orang gila tidak lagi diwajibkan melakukan sholat”

Penanya: “ ???????....... ”

Sejak saat itu dia tidak pernah lagi mengikuti was-wasnya sebab dia tidak mau menjadi  gila.


2-     Ikutilah pendapat ulama yang berpendapat ringan dalam masalah tersebut.

Jika was-was yang dialami adalah dalam permasalahan fiqih seperti wudhu, sholat, puasa dan lainnya maka sebaiknya ikutilah pendapat yang ringan dalam masalah tersebut. Sebab was-was yang merupakan penyakit hati pengobatannya sama dengan penyakit badan. Ia membutuhkan sesuatu yang berlawanan dengan yang dia alami. Orang yang kena panas tinggi diobati dengan didinginkan badannya, dan yang kena kurang darah diberi suplemen penambah darah untuk menstabilkannya. Maka, jika seseorang was-was dalam masalah niat misalnya dia bisa mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa niat itu tidak wajib, maka mengingat pendapat yang berat dalam suatu permasalahan bagi orang yang was-was dalam masalah tersebut sama saja dengan menambahkan gula di makanan orang yang mengidap dibetes.

Cobalah baca kisah yang pernah diceritakan guru saya dibawah ini:

Datang seseorang kepada seorang alim ulama terkemuka pada zamannya yaitu Habib Abdurrahman Al Masyhur (seorang Mufti Hadromaut sekaligus pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin) dia mengadu kepada beliau atas penyakit was-wasnya terhadap najis yang sudah sangat mengganggu sehingga membuatnya selalu mengganti pakaian setiap akan mengerjakan sholat karena merasa bahwa pakaian yang dikenakannya berkemungkinan terkena najis, dan karena ada kemungkinan najis itu juga mengenai badannya dia memutuskan untuk mandi sebelum wudhunya.
Habib Abdurrahman tidak menjawab keluhannya akan tetapi mengajaknya menuju masjid tatkala adzan berkumandang, beliau hanya menanyakan tentang satu hal:
“Kamu yakin bahwa saya adalah gurumu yang tidak akan memutuskan sesuatu kecuali dengan panduan ilmu?”
Orang itupun mengangguk dengan pasti.
Di tengah perjalanan mereka, mereka mendapati seekor kambing yang sedang mengeluarkan kotoran, orang itupun berusaha menjauh sebisa mungkin, akan tetapi sang guru justru menghentikan langkah dan malah menyuruhnya untuk mengambil kotoran tersebut dengan tangannya dan meletakkannya di saku baju yang tengah dia kenakan, seraya berkata:

“Ada di antara ulama yang bermadzhab syafi’ie yang mengatakan bahwa kotoran dari binatang ternak yang boleh dimakan dagingnya adalah suci“

Orang itu menuruti ucapan gurunya meletakkan kotoran di sakunya dan berangkat sholat dengan pakaian tersebut. Sejak hari itu sembuhlah penyakit was wasnya.

3-     Mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syeitan.

Sebab hanya Dialah sumber kekuatan kita, dan tatkala hati kita mengingatNya itu adalah senjata terbesar untuk kita mengalahkan musuh manapun.
Nabi Muhammad SAW  mengatakan tentang tafsir dari surat An-Nas ayat 4
(Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi):
" Syeitan bersembunyi tatkala seseorang mengingat Allah SWT dan dia akan menguasai tatkala orang tersebut lupa kepada Allah SWT "

Maka setiap was-was itu datang konsentrasikan pikiranmu mengingat Allah dan mohonlah agar Dia menjagamu dari godaan syeitan. Kemudian lihatlah bahwa bisikan-bisikan itu akan berkurang.

Jika tiga hal di atas ini selalu kau lakukan setiap kali was-wasmu datang akan ada waktu dimana was-was hanya akan menjadi masa lalu.
Sehingga barangkali kalau nanti ada seseorang bertanya kepadamu: “Pernah kena was-was?“
Kamu akan berkata: “Sudah lupa tuh... “





18 comments:

  1. masya alloh...berguna bangeet dagh artikelnya karna saya jadi tau apa itu penyakit was-was...
    syukron ya ustadzah :)

    ReplyDelete
  2. Akan ada waktu untuk penantian...hanya masalah waktu

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah sdh terjawab,terima kasih ustadzah ....

    ReplyDelete
  4. masya ALLAH bermanfaat sekali ustadzh karna saya sering mengalaminya
    syukron,,
    afwan ustadzh izin share
    smoga manfaat untuk kita semua
    khusunya muslim

    ReplyDelete
  5. masya aLLah..
    makasii ustazaah..
    hal ini sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  6. subhanallah ustazah penjelasan yang sangat detail syukron

    ReplyDelete
  7. salam, terima kasih diatas penerangan itu krn permasalahan ini sering kali mengganggu... bagaimanapun rasa syukur krn itu adalah petanda seseorg itu mukmin... alhamdulillah, subhana allah, allahu akbar....

    ReplyDelete
  8. salam..
    ustadzah apa bnar yg d ktakan slh satu ulama yg bermadzhab syafi'i mengatakan bahwa kotoran dari binatang ternak yang boleh dimakan dagingnya adalah suci..??

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaykum Ustadzah,,

    dirumah saya menggunakan mesin cuci yg satu pintu yg otomatis,

    sehingga saat usai mencuci, dan saat akan menyucikan pakaian, saya siram air ke dalam mesin, dan mengalir. lalu saya pakai pengeringnya.

    suatu saat, saya tak sengaja memasukkan pakaian yg ada najis ainiyah nya... saya tidak bermaksud demikian.
    saya tidak sadar hingga pada suatu hari saat saya akan menyetrika saya menemukan pakaian yg ada najis 'ainiyahnya tadi diantara pakaian-pakaian kering yg habis saya jemur.

    saya tidak tahu apakah saya tidak sengaja mencuci barang najis 'ainiyah itu hari ini, atau kemarin,atau kemarin-kemarinnya lagi... karena di kotak tempat pakaian habis dicuci itu bercampur antara pakaian suci hari ini dan hari-hari lainnya yg belum disetrika.

    saya bingung...
    apakah saya harus menyiram semua pakaian-pakaian yang ada di dalam kotak itu plus jemuran tempat saya menjemur?
    Meskipun saya lihat pakaian-pakaian yg lainnya tidak ada sifat najis 'ainiyahnya(bau,warna&rasa).
    Hanya pakaian yg terkena najis tadi itu saja yg tampak najis 'ainiyahnya.


    apakah boleh dalam hal ini saya memakai pendapat imam abu hanifah,dengan tidak menyiram semua pakaian-pakaian yg ada karena ada puluhan pakaian disitu?

    saya hanya akan menyiram/menghilangkan najis 'ainiyah di satu pakaian yg ada najis 'ainiyahnya tadi?

    bolehkah saya memakai pendapat imam abu hanifah dalam hal ini?

    saya jadi bingung ustadzah..begitu banyak yg harus saya siram...

    terima kasih

    ReplyDelete
  10. alhamdulillah, terima kasih ustadzah :D

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillaah... Saya sangat bersyukur bisa membaca blog ini.
    semoga Allah melindungi hamba-hambanya dari sifat was-was yang berlebih-lebihan. (Aamiin ya Allah..)
    Terimakasih, sekarang saya jauh lebih mengerti.
    Izin share ke teman-teman saya ya....

    ReplyDelete
  12. Assalamu'alaikum.....
    Masih sering sambang ke Dalwa? :)

    ReplyDelete
  13. Assalamualaikum, Ramai sungguh yg was-was dan sakit, saya share artikel and disini, mohon izin ya:

    http://chromosome.wordpress.com/2010/11/25/mengubati-lintasan-hati/#comment-4826

    ReplyDelete
  14. alhamdulillah,, akhirnya saya menemukan jawaban yang dicari selama ini, apalagi saya sering was was apabila dihadapkan pada mandi wajib..

    ReplyDelete
  15. alhamdulillah,, akhirnya saya menemukan jawaban yang dicari selama ini, apalagi saya sering was was apabila dihadapkan pada mandi wajib..

    ReplyDelete
  16. assalamu alaikum ustadzah, saya mau tanya, bagaimana kiranya membersihkan kotoran tikus di lantai rumah, perlu kah kita lap dengan air, apakah kotoran tikus yang teksturnya cenderung kering dapat mengenai lantai rumah?

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah terjawab sudah , shukron ustadzah

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah ustadzaahh... bermanfaat sekali bagi saya, jd tau dan bisa mencegah nya... Syukron ustadzaahh ∆_∆

    ReplyDelete